“Konsep Berpikir Digital” Pengamat Ahli Menilai Indonesia Perlu Menerapkannya 2022

konsep berpikir digital
DAFTAR ISI

Konsep Berpikir Digital– Era teknologi saat ini membawa kita pada kemajuan digital yang sangat pesat, seperti yang kita ketahui bahwa dunia digital saat ini sudah sangat berkembang dan banyak membantu seluruh aspek dalam kehidupan kita.

Mulai dari pekerjaan, berbelanja, hiburan, kesehatan, semuanya itu sudah hadir dalam bentuk digital yang dapat kita akses hanya dengan smartphone dan prangkat komputer yang kita miliki. Sudah sangat banyak manfaat yang dapat kita rasakan dari kehadiran teknologi dan percepatan digital saat ini.

Kemajuan teknologi saat ini pun harusnya didukung juga dengan pemahaman manusia agar dapat berpikir sistematis dan cerdas dalam menggunakan segala alat teknologi dan digital yang ada, ini diperlukan agar percepatan teknologi dapat seimbang dengan konsep berpikir manusia dalam menjalankan segala aktifitas kedepannya.

Mengenal Apa Itu Konsep Berpikir Digital

Pesatnya perkembangan teknologi dan dunia digital saat ini pengamat ahli pada bidang budaya dan komunikasi digital dari Universitas Indonesia “Firman Kurniawan” mengatakan bahwa Indonesia perlu untuk mengembangkan cara berpikir digital untuk merubah dan menggantikan cara berpikir konvensional, menurutnya juga Indonesia saat ini menjadi pasar yang potensial untuk perkembangan ekosistem digital.

Dilansir dari CNN Firman mengungkapkan saat berbicara mengenai level pemanfaatan perangkat digital untuk produksi, industri digital, dan membangun kemampuan bersaing dengan memanfaatkan perangkat digital kita telat memulai.

Baca Juga:  Kerjasama dengan Microsoft Azure, CBNCloud Resmi Luncurkan Layanan Hybrid Cloud

Firman memberikan contoh pemanfaatan perangkat digital pada teknologi finansial yang model usahanya masih konvensional, tetapi cuma dipercanggih dengan pemanfaatan perangkat digital. “Bentuk bisnis finansialnya masih konvensional. Cuma dipercanggih dengan pemanfaatan perangkat digital,” jelasnya.

“Ini beda dengan teknologi financial, yaitu mengembangkan paradigma teknologi untuk layanan finansial. Dengan paradigma ini, inklusi finansial tidak mesti dilakukan oleh sektor perbankan, tetapi oleh industri teknologi yang memahami aspek finansial,” pungkasnya.

Dengan singkat, produk yang dijajakan di Indonesia masih konvensional tetapi dikemas secara digital. “Konsep berpikir kita saat ini masih dalam tahapan konvensional yang dipercanggih oleh keberadaan teknologi.  

Belum, bagaimana caranya teknologi dimanfaatkan untuk beragam hal secara efisien,” tutur Firman. Bila hal itu berhasil diubah, contohnya dalam sektor finansial, akan terjadi peningkatan efisiensi dan jangkauan entitas baru yang sebelumnya tidak terlayani oleh perbankan.

Pilar Ekosistem Digital & Konsep Berpikir Digital

Pilar ekosistem digital "Konsep Berpikir Digital" Pengamat Ahli Menilai Indonesia Perlu Menerapkannya 2022
"Konsep Berpikir Digital" Pengamat Ahli Menilai Indonesia Perlu Menerapkannya 2022 2

Dalam membangun sebuah ekosistem digital, Firman menyebut ada delapan pilar yang harus dipenuhi secara operasional, yaitu pilar faktor produksi, keterhubungan, infrastruktur, institusi dan regulasi, perangkat akses digital, persaingan, produksi digital dan industri digital.

Semua aspek tersebut sangat penting, sehingga nantinya dalam membangun konsep berpikir digital kita tidak lagi kesulitan dan bingung cara memanfaatkannya.

Menurut Digital Skills Gap Index (DSG), Indonesia saat ini ada di posisi 47 dari 134 negara dalam segi keunggulan keahlian digital. Firman mengungkapkan, DSGI tidak serta merta tepat untuk dipakai mengukur keadaan ekosistem digital di Indonesia, tetapi pilar-pilarnya yang cukup identik bisa dipakai sebagai pendekatan pada hal itu.

Baca Juga:  Samsung dan LG Kompak Tak akan Bikin Smartphone Lemot Kayak Apple

6 Aspek Keahlian Digital, Menurut DGSI yaitu:

1. Digital keahlian institutions (skill digital institusi)

2. Digital responsiveness (daya tanggap digital)

3. Goverment support (dukungan pemerintah)

4. Supply &  Demand, Competitiveness (Pasokan, permintaan, dan daya saing)

5. Data ethics &  integrity (etika data dan integritas)

6. Research Intensity (intensitas riset)

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan mengenai Indonesia perlu mengembangkan konsep berpikir digital diatas, yang dimana kita sebagai pengguna teknologi tidak hanya menggunakan dan memanfaatkanya saja untuk keperluan bsinis dan lainya. Akan tetapi kita perlu berinovasi dan berpikir cerdas agar teknologi ini bisa kita kembangkan agar membentuk ekosistem digital yang baik kedepannya.

Kita berharap semoga Indonesia juga secepatnya dapat  mengembangkan konsep berpikir digital ini agar kita tidak hanya menjadi consumer di pasar digital tetapi kita juga bisa menjadi pelopor dalam perkembangan dan kemajuan dunia digital di masa yang akan datang.

Oleh karena itu bagi Anda para pemilik bisnis yang ingin memanfaatkan keberadaan teknologi saat ini untuk mengembangkan bisnis, Anda dapat menghubungi kami sebagai penyedia Jasa Pembuatan Aplikasi Android Makassar, kami sudah berpengalaman sejak 2015 dalam membuat dan membangun aplikasi dan sistem digital.

Ebook Gratis!!

Subscribe untuk dapatkan e-book GRATIS dan informasi teknologi terbaru dan diskon menarik langsung di Email-mu

Infanthree Digital Administrator
Infanthree Digital Administrator
Website, Mobile Apps, IoT, Digital Marketing Agency, IT Konsultan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
WhatsApp chat