Konsep Berpikir Digital-Era teknologi saat ini membawa kita pada kemajuan digital yang sangat pesat, seperti yang kita ketahui bahwa dunia digital saat ini sudah sangat berkembang dan banyak membantu seluruh aspek dalam kehidupan kita, mulai dari pekerjaan, berbelanja, hiburan, kesehatan, semuanya itu sudah hadir dalam bentuk digital yang dapat kita akses hanya dengan smartphone dan prangkat computer yang kita miliki.

Konsep Berpikir Digital

Dengan begitu pesatnya perkembangan teknologi dan dunia digital saat ini pengamat ahli pada bidang budaya dan komunikasi digital dari Universitas Indonesia “Firman Kurniawan” mengatakan bahwa Indonesia perlu untuk mengembangkan cara berpikir digital untuk merubah dan menggantikan cara berpikir konvensional, menurutnya juga Indonesia saat ini menjadi pasar yang potensial untuk perkembangan ekosistem digital.

Dilansir dari CNN Firman mengungkapkan saat berbicara mengenai level pemanfaatan perangkat digital untuk produksi, industri digital, dan membangun kemampuan bersaing dengan memanfaatkan perangkat digital kita telat memulai. Firman memberikan contoh pemanfaatan perangkat digital pada teknologi finansial yang model usahanya masih konvensional, tetapi cuma dipercanggih dengan pemanfaatan perangkat digital. “Bentuk bisnis finansialnya masih konvensional. Cuma dipercanggih dengan pemanfaatan perangkat digital,” jelasnya.

“Ini beda dengan teknologi financial, yaitu mengembangkan paradigma teknologi untuk layanan finansial. Dengan paradigma ini, inklusi finansial tidak mesti dilakukan oleh sektor perbankan, tetapi oleh industri teknologi yang memahami aspek finansial,” pungkasnya. Dengan singkat, produk yang dijajakan di Indonesia masih konvensional tetapi dikemas secara digital. “Konsep berpikir kita saat ini masih dalam tahapan konvensional yang dipercanggih oleh keberadaan teknologi.  Belum, bagaimana caranya teknologi dimanfaatkan untuk beragam hal secara efisien,” tutur Firman. Bila hal itu berhasil diubah, contohnya dalam sektor finansial, akan terjadi peningkatan efisiensi dan jangkauan entitas baru yang sebelumnya tidak terlayani oleh perbankan.

Pilar Ekosistem Digital

Pilar ekosistem digital Pengamat Ahli Menilai Indonesia Perlu Kembangkan Konsep Berpikir Digital 2022
Pengamat Ahli Menilai Indonesia Perlu Kembangkan Konsep Berpikir Digital 2022 2

Untuk membangun sebuah ekosistem digital, Firman menyebut ada delapan pilar yang harus dipenuhi secara operasional, yaitu pilar faktor produksi, keterhubungan, infrastruktur, institusi dan regulasi, perangkat akses digital, persaingan, produksi digital dan industri digital.

Menurut Digital Skills Gap Index (DSG), Indonesia saat ini ada di posisi 47 dari 134 negara dalam segi keunggulan keahlian digital. Firman mengungkapkan, DSGI tidak serta merta tepat untuk dipakai mengukur keadaan ekosistem digital di Indonesia, tetapi pilar-pilarnya yang cukup identik bisa dipakai sebagai pendekatan pada hal itu.

DSGI sendiri mengukur keahlian digital dalam enam aspek, yaitu:

1. Digital keahlian institutions (skill digital institusi)

2. Digital responsiveness (daya tanggap digital)

3. Goverment support (dukungan pemerintah)

4. Supply &  Demand, Competitiveness (Pasokan, permintaan, dan daya saing)

5. Data ethics &  integrity (etika data dan integritas)

6. Research Intensity (intensitas riset)

Kesimpulan

Itulah tadi pembahasan mengenai Indonesia perlu mengembangkan konsep berpikir digital yang dimana kita sebagai pengguna teknologi tidak hanya menggunakan dan memanfaatkanya saja untuk keperluan bsinis dan lainya akan tetapi kita perlu berinovasi dan berpikir cerdas agar teknologi ini bisa kita kembangkan agar membentuk ekosistem digital yang baik kedepannya. Kita berharap semoga Indonesia juga secepatnya dapat  mengembangkan konsep berpikir digital ini agar kita tidak hanya menjadi consumer di pasar digital tetapi kita juga bisa menjadi pelopor dalam perkembangan dan kemajuan dunia digital di masa yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.