Konsumsi Energi Bitcoin Telah Separuh Indonesia

Konsumsi Energi Bitcoin Telah Separuh Indonesia

Berita yang berjudul ” Konsumsi Energi Bitcoin Telah Separuh Indonesia c” berikut bisa Kamu baca disini, dan masih banyak berita teknologi paling baru lainnya. Tetapi harus Kamu ketahui bahwa informasi ini berasal dari website eksternal. Silahkan Kamu langsung ke situs officialnya dengan melakukan pencarian di google dengan judul yang sama

Komputer khusus untuk “menambang” bitcoin inilah yang diklaim menyedot energi listrik yang luar biasa

Lembaga penelitian Morgan Stanley memperkirakan, kebutuhan energi bitcoin dan cryptocurrency tahun ini akan menembus angka 140 Terrawatt-Hour (TWh). Sebagai gambaran, kebutuhan energi di Indonesia di tahun 2016 ialah 216 TWh.

Kamu barangkali bertanya, kenapa bitcoin memerlukan energi begitu besar? Begini penjelasannya. Untuk bisa beroperasi, bitcoin memanfaatkan komputer (atau node) yang berfungsi mencatat transaksi yang terjadi di jaringan bitcoin. Semua orang yang bersedia komputernya jadi pencatat transaksi, dapat bergabung ke jaringan dengan menjalankan aplikasi khusus bitcoin.

Tetapi sebab transaksi di jaringan bitcoin terus terjadi dan harus terus dicatat, komputer-komputer ini pun perlu terus menyala. Tentu, tak banyak orang rela menyalakan komputernya terus menerus tanpa hadirnya imbalan. Sebab itulah jaringan bitcoin memberikan imbalan berupa bitcoin gratisan.

Setiap jam, sistem bitcoin akan mengeluarkan 75 bitcoin kepada komputer yang “beruntung” dan berhasil menyelesaikan hitung-hitungan algoritma khusus.

Semua komputer yang menyala itu tentu memerlukan energi. Sebetulnya, agak susah secara persis menghitung konsumsi energi dari segala komputer itu. Tetapi kita dapat melakukan prediksi berdasarkan asumsi seberapa rela pemilik komputer mengeluarkan investasi di sisi energi untuk menambang bitcoin.

Digiconomist mengasumsikan, angka investasi dalam bidang energi sekitar 60% dari harga satu keping bitcoin.

Sesudah itu, kita dapat melakukan prediksi konsumsi energi berdasarkan harga bitcoin dan harga listrik. Digiconomist sendiri menyediakan grafik khusus yang meramalkan tingkat konsumsi jaringan bitcoin ini. Per 11 Januari 2018, angkanya mencapai 40,2 TWh. Angka yang dilansir Morgan Stanley di atas ialah akumulasi dari bitcoin dan cryptocurrency lain.

Konsumsi energi ini sendiri bisa terus naik (atau turun) sesuai pergerakan harga bitcoin dan cryptocurrency lain. Tetapi faktor konsumsi listrik ini menambah alasan bagi pihak yang skeptis terhadap bitcoin.

Agak susah membayangkan bitcoin akan menggantikan sistem pembayaran tradisional bila konsumsi energinya demikian tinggi. Sebagai perbandingan, sistem pembayaran Visa cuma 1,3% dari bitcoin.

Inilah artikel mengenai ” Konsumsi Energi Bitcoin Telah Separuh Indonesia “.Walaupun Kamu telah selesai menyimak artikel ini, Kami menganjurkan untuk membaca artikel aslinya secara keseluruhan.

Silahkan kunjungi website resminya dengan melakukan pencarian di google dengan judul ” Konsumsi Energi Bitcoin Telah Separuh Indonesia ” untuk membaca artikel oroginalnya agar tidak terjadi perbedaan makna informasi


Butuh jasa pembuatan website di Makassar? kontak kami. Jasa Pembuatan Aplikasi Android, Jasa SEO dan SEM, SMM, Internet Marketing Agency, Social Media Strategist Makassar, Pembuatan Logo, Konten, Video, Maskot dan Instalasi jaringan ataupun mikrotik bisa kami lakukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *