Begini Cara Tim Cyber Crime Kepolisian Melacak Akun Anonim Di Media Sosial

Begini Cara Tim Cyber Crime Kepolisian Melacak Akun Anonim Di Media Sosial

Informasi dengan judul ” Begini Cara Tim Cyber Crime Kepolisian Melacak Akun Anonim Di Media Sosial” ini dapat Kamu lihat disini, dan masih banyak informasi teknologi terupdate lainnya.

Maraknya kasus kejahatan digital ataupun aksi cyber bullying lewat media sosial makin selalu terjadi. Pada beberapa kasus banyak akun akun media sosial yang tidak memakai identitas asli alias anonim. Banyak pihak yang merasa sedikit risih dan cemas terhadap keberadaan akun akun anonim di social media ini.

Pasalnya, akun-akun ini sering dijadikan ajang untuk mendiskreditkan serta memeras seseorang. Mungkin di antara pembaca sekaligus masih ingat dengan akun @TrioMacan2000 yang cukup terkenal di Twitter. Si pemilik akun diduga melakukan upaya pemerasan terhadap seorang pejabat di Telkomsel dengan akun anonim lainnya, @denjaka dan @berantas3.

Menarik untuk di lihat mengingat saat ini sedang musim Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) banyak akun akun anonim social media baru bermunculan. Kemunculan akun akun anonim ini pada umumnya bertujuan untuk mendukung atau menjelek jelekan pasangan calon tertentu.

Bahkan pada beberapa peristiwa, kasus pencemaran nama baik lewat dunia maya memakai social media telah mendapat perhatian serius dari pihak berwajib dengan melaporkan dan melacak akun anonim social media kepada Tim Cyber Crime kepolisian yang di duga melakukan hate speech di ranah cyber.

Lalu, bagaimana sebetulnya cara penyidik melacak akun dan membuktikan pemilik akun-akun anonim itu?

Kepala Divisi Hukum Indonesia Cyber Law Community (ICLC) Josua Sitompul menjelaskan, sebetulnya ada sejumlah cara yang di lakukan oleh Tim Cyber Crime untuk mendeteksi seseorang sebagai pemilik atau admin akun anonim itu.

Pertama, melihat dari kesesuaian pola tulisannya. “Kan terkadang ada orang yang membuat satu tulisan itu amat rinci. Contohnya, bila saya ngomong thanks itu ‘tks’, orang lain ‘tx’. Atau barangkali juga dari pola tulisannya yang lain,” jelas Josua seperti pada lansir dari hukumonline.com

Kesesuaian pola tulisan itu bisa dilihat dengan metode membandingkan konten yang terdapat di dalam akun anonim dengan konten yang terdapat di blog atau situs resmi punya orang itu, lanjutnya.

Kedua, jelas Josua, pelacakan yang amat akurat ialah melalui pencarian IP address si pelaku. Tetapi, untuk kasus-kasus jejaring sosial seperti facebook dan twitter, pelacakan IP address sulit untuk diperoleh. “Itu (social media,-red) kan servernya ada di Amerika, jadi kita itu akan mempunyai kesulitan yang signifikan untuk minta IP ke mereka saat akan melacak akun anonim” katanya.

Josua menceritakan pernah mempunyai pengalaman yang cukup panjang saat meminta IP address kepada salah satu social media. Disampaikannya, agar mendapatkan IP address, pemohon harus memenuhi hukum yang berlaku di Amerika. Hal ini lah yang dirasa tidak gampang.

Terlebih lagi, lanjut Josua, birokrasi di sana juga tidak gampang. “Untuk memohonkan IP address itu, kita perlu berkoordinasi dengan kedutaan negara pemilik server. Kemudian, kedutaan juga akan melihat kasus apa yang dipunyai serta seberapa signifikan kasus itu,” jelasnya.

“Secara rinci bila andaikan kasus ini berkaitan dengan pelecehan, terdapat perbedaan mendasar pada freedom of speech (kebebasan berpandangan). Kebebasan mereka (hukum di Amerika,-red) beda dengan kebebasan berekspresi kita. Mereka bila yang saya lihat jauh lebih tinggi, maksudnya mereka itu lebih memberikan kebebasan untuk mengeluarkan kata-kata yang boleh jadi di dalam keadaan kita itu merupakan termasuk pelecehan,” tuturnya.

Dalam kasus pemilik akun anonim @TrioMacan2000, Josua mengungkapkan tidak mempunyai cukup informasi untuk mengevaluasi apa yang amat berat bagi jaksa untuk membuktikan kasus yang amat erat dengan digital forensic ini.

“Namun yang jadi masalah, saat kita berbicara terkait pembuktian secara elektronik ya pastinya yang perlu dilihat kan siapa yang betul-betul melakukan perbuatan itu secara faktual,” kata Josua.

Proses Identifikasi, Dan Analisa Barang Bukti

Berikut ialah gambaran terkait proses digital forensik secara garis besar yang di lakukan oleh Tim Cyber Crime Kepolisian. Ada sejumlah proses yang dilakukan dalam digital forensik, salah satunya ialah identifikasi.

Proses identifikasi dilakukan untuk memeriksa dengan seksama barang atau sistem elektronik yang mengandung informasi atau dokumen elektronik yang bisa dijadikan alat bukti.Walau begitu, untuk membuktikan kasus ini, bukan berarti cuma tergantung pada alat bukti elektronik.

Dalam kasus cyber crime tidak sering menekankan pada alat bukti elektronik semata. Dalam melacak akun anonim pembuktian-pembuktian yang konvensional, serta alat bukti-alat bukti yang konvensional yang terdapat pada Pasal 184 KUHAP, juga masih amat relevan untuk dipakai.

Untuk itu untuk pembaca setia recode.ID untuk lebih berhati hati lagi memakai akun media sosialnya agar dapat terlepas dari berurusan dengan hukum cuma gara-gara tidak dapat mengendalikan ucapan kita di social media dan menyindir perasaan orang lain.

Demikianlah artikel mengenai ” Begini Cara Tim Cyber Crime Kepolisian Melacak Akun Anonim Di Media Sosial “.Walaupun Kamu telah selesai membaca artikel ini, Kami menganjurkan untuk membaca berita aslinya secara mendalam.

Silahkan kunjungi situs resminya dengan melakukan pencarian di google dengan judul ” Begini Cara Tim Cyber Crime Kepolisian Melacak Akun Anonim Di Media Sosial ” untuk membaca artikel aslinya supaya tidak terjadi kesalahan makna berita
Sumber: recode id


Butuh jasa pembuatan website di Makassar? kontak kami. Jasa Pembuatan Aplikasi Android, Jasa SEO dan SEM, SMM, Internet Marketing Agency, Social Media Strategist Makassar, Pembuatan Logo, Konten, Video, Maskot dan Instalasi jaringan ataupun mikrotik bisa kami lakukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *